Penerimaan

Penerimaan dapat diartikan sebaga nilai produk total dalam jangka waktu tertentu baik yang dipasarkan maupun tidak (Soekartawi, 2002)

Soekartawi, 2002. Analisis Usahatani. UI-Press. Jakarta.

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara jumlah produksi yang diperoleh dengan harga produksi (Suratiyah, 2006).

Suratiyah, K. 2006. Ilmu Usahatani. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
READMORE
 

Tenaga Kerja

Tenaga kerja adalah salah satu unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung musim. Kelangkaan tenaga kerja berakibat mundurnya penanaman sehingga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, produktivitas, dan kualitas produk. Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usahatni keluarga (family farms), khsusnya tenaga kerja pertanian beserta anggota keluarga. Tenaga kerja usahatani keluarga biasanya terdiri atas pertanian beserta keluarga dan tenaga luar yang kesemuanya berperan dalam usahatani (Suratiyah, 2006).

Suratiyah, K. 2006. Ilmu Usahatani. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
READMORE
 

Perbedaan Usahatani Keluarga dan Perusahaan Pertanian

Menurut Suratiyah (2006), secara garis besar ada dua bentuk usahatani yang telah dikenal yaitu usahatani keluarga (family farming) dan perusahaan pertanian (plantation, estate, enterprise). pada umumnya yang dimaksud dengan usahatani adalah usaha keluarga sedangkan yang lain adalah perusahaan pertanian. Perbedaan pokok antara usahatani keluarga dan perusahaan pertanian terletak pada 8 hal, yaitu sebagai berikut.
1. Tujuan akhir
Tujua akhir usahatani keluarga adalah pendapatan keluaga pertani (family farm income) yang terdiri atas laba, upaya tenaga keluarga dan bunga modal sendiri. pendapatan yang dimaksud adalah selisih antara ilai produksi dikurangi dengan biaya yang betul-betul dikeluarkan oleh petani. sementara perusahaan pertanian tujuan akhirnya adalah keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya, yaitu selisih antara nilai hasil produksi dikurangi dengan biaya.

2. Bentuk Hukum
Ushatani keluarga tidak berbadan hukum. Sedangkan perusahaan pertanian pada umumnya mempunyai badan hukum.

3. Luas Usaha
Usahatani keluarga pada umumnya berlahan sempit yang biasanya disebut gurem karena penggunaan lahan kurang dari 0,5 ha. Perusahaan pertanian pada umumnya berlahan luas karena orientasinya pada efisiensi dan keuntungan.

4. Jumlah Modal
Usahatanikeluarga mempunyai modal per satuan luas lebih kecil dibanding dengan perusahaan pertania.

5. Jumlah Tenaga yang dicurahkan
Jumlah tenaga yang dicurahkan per satuan luas usahatani keluarga lebih besar daripada perusahaa pertania.

6. Unsur Usahatani
Yang membedakan unsur usahatani keluarga dengan perusahaan pertanian terletak pada tenaga luar yang dibaya. Pada usahatani keluarga melibatkan pertanian hanya tenaga luar yang dibayar. Unsur lainnya tanah dan alam sekitar serta modal merupakan unsur yang dimliki, baik usahatani keluarga maupun perusahaan pertanian.

7. Sifat Usaha
Usahatani keluarga pada umumnya bersifat subsistence, komersial, mauu semi komersial (transisi dari subsistence ke komersial). Seementara perusahaan pertanian selalu bersifat komersial artinya selalu megejar keuntungan dengan memperhatikan kualitas maupun kuantitas produknya.

8. Pemanfaatan terhadap hasil-hasil pertanian
perusahaan pertanian yang mutahir, bahkan tidak segan-segan membiayai penelitian dei kemajuan usahanya. Perusahaan pertanian biasanya mempunyai bagian penelitian dan penggembang (Research and Development) yang berfungsi untuk mencari dan menemukan terobosan-terobosan baru baik dari segi teknik bercocok tanam, pengolahan hasil, maupun peasarannya. Semenatara usahatani keluarga karena keterbatasan modal, peralatan, dan human capital maka terobosan-terobosan baru tergantung pada hasil penelitian dan pengembangan pemerintah melalui Departemen Pertanian dengan Balai-balai penelitian dan pemgembangan eknologi sertan tenag-tenaga penyuluh. Pertanian menerapkan hasil-hasil penelitian tersebut serta mengamati dan mengikuti demostrasi plot (demplot) serta upaya-upaya sosialisasi yang dilakukan pemerintah lainnya.

Suratiyah, K. 2006. Ilmu Usahatani. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.
READMORE
 

Sistem Agribisnis

sistem agribisnis dikelompokkan menjadi empat subsistem kegiatan, yaitu pengadaan srana produksi (agroindustri hulu), kegiatan produksi promer (budi daya), pengolahan (agroindustri hilir), dan pemasaran. dengan demikian, agribisnis merupakan gabungan dari agroindustri, budi daya pertanian, dan pemasaran.

Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Bogor.

Agribisnis adalah suatu kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau kesatuan dari mata rantai pengadaan saprodi, produksi, pengolahan hasil dan pemasaran dihasilkan usahatani atau hasil olahannya (shinta, 2011).

shinta, A. 2011. Ilmu Usahatani. cetakan pertama. UB Press. Malang.
READMORE
 

Pembangunan Pertanian

Pembangunan pertanian adalah suatu proses untuk meningkatkan produksi hasil usahatani. Untuk hasil-hasil tersebut, perlu adanya pasar, serta harga yang cukup tinggi untuk membayar kembali biaya-biaya tunai dan day upaya yang telah dikeluarkan petani pada saat memproduksikannya. sehubungan dengan hal itu, ada 3 hal yang sangat diperlukan:
1. Seseorang di suatu tempat yang membeli hasil usahatani, perlu ada permintaan (demand) terhadap hasil usahatani tersebut.
2. Seseorang yang menjadi penyalur dalam penjualan hasil usahatani atau yang biasa disebut "sistem tata niaga"
3. Perlu ada kepercayaan petani terhadap kelancaran sistem tata niaga tersebut.

Hanafile, R. 2010. Pengantar Ilmu Ekonomi Pertanian. Edisi Pertama. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Keberhasilan pembangunan pertanian memmerlukan beberapa pra kondisi yang untu daerah berbeda-beda. Pra kondisi tersebut meliputi bidang-bidang teknis, ekonomis, sosial budaya dan lain-lain. Menurut ada lima syarat yang harus ada dalam pembangunan pertanian (Mubyarto, 1995).

Mubyarto. 1995. Pengatar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Pembangunan pertanian (dalam arti luas) dengan pendekatan agribisnis merupakan usaha rakyat dengan memperhatikan kelengkapan empat fungsi agribisnis (subsistem sarana produksi, subsistem budidaya, subsistem pasca panen dan subsistem pemasaran). Konsep ini mempunyai arti, bahwa pembangunan pertanian harus berorientasi pasar dan tidak lagi sekedar berproduksi. sehingga pembangunan usaha peternakan rakyat dengan pendekatan agribisnis, mempunyai pengertian bahwa sebenarnya tidak ada hambatan lain dalam pembangunan tersebut kecuali jika salah satu sistem agribisnis belum ada dalam perekonomian tersebut (Mersyah, 2005).

Mersyah, R. 2005. Desain Sistem Budi Daya Sapi Potong Berkelanjutan Untuk Mendukung Pelaksanaan Tonomi Daerah Di Kabupaten Bengkulu Selatan. Disertasi, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
READMORE